20.46 -
Refleksi
No comments
Refleksi
No comments
Menata Hidup
Ternyata benar. Malam ini tak ada bintang, apalagi bulan. Oh, rupanya langit sedang murung dalam bahagia-bahagianya. Satu persatu air langit menetesi sebagian kakiku..
Di beranda ini aku sendiri. Berteman kerik-kerik para jangkrik dan sayup-sayup rindu tadarus. Sebuah ketenangan yang memilukan bagiku...
Sebenarnya dingin sekali. Tapi mau bagaimana lagi?
Jika kembali pada 25 tahun lalu, maka aku benarbenar disergap rasa penasaran yang sangat, sepotong kisah tentang Kakekku yang bila kulihat wajahnya, ia hanya diam dalam bingkai. Airmukanya begitu penuh kasih.. Entah mengapa tiap kutanyakan riwayatnya pada Ayah, Ayah bilang aku tak perlu tahu... Ehm.. Baiklah kalau begitu..
Lalu jika kukembali pada 20 tahun lalu, lagi-lagi aku dibuat penasaran pada wajah dalam album kenangan kecil itu. Ibu bilang wanita berkebaya ini Nenekku.. Cantik. Cantik sekali... Kata Ibu, nenek selalu berpesan pada putera-puterinya, agar kelak cucu-cucu gadisnya tak boleh ada yang menikah muda. Yaa.. Insya Allah Ibu dan Paman-bibi "sam'an wa tho'atan". ^_^
Kemudian semuanya berjalan dengan penuh kemudahan. Meski harus menerjang aral-aral yang melintang... Ada yang datang pun ada yang berpulang... Sebuah metamorfosis yang sempurna. Hingga aku menjadi seperti sekarang ini...
Ketika aku tertatih-tatih, Ayah dan Ibu datang menuntunku. Ketika aku tersenyum, Ayah dan Ibu datang menepuk-nepuk bahuku. Ketika aku khusyu dalam doa, maka Ayah dan Ibu menitikkan airmata ridhanya.
Setiap kali Ayah memintaku menjaga kenyamanan rumah, setiap itupun Ibu membimbingku 'menyapu lantai', 'mencuci dan melipat pakaian', 'menyingkap dan menutup tirai', 'menyirami tanaman', 'meracik' bumbu-bumbu iman dan kelezatan,
Kurasa sudah sempurna.
"mengapa Ibu memberi semua ini padaku?" Tanyaku suatu ketika. Kemudian Ibu menjawab,
"Ibu berikan semua ini padamu agar kelak Ibu tidak dilanda kecemasan saat kau mulai ibu lepas ke alam dimana kau mulai tahu arti suka dan duka yang sesungguhnya..." Jawab Ibu penuh ketulusan.
Di beranda ini aku sendiri. Berteman kerik-kerik para jangkrik dan sayup-sayup rindu tadarus. Sebuah ketenangan yang memilukan bagiku...
Sebenarnya dingin sekali. Tapi mau bagaimana lagi?
Jika kembali pada 25 tahun lalu, maka aku benarbenar disergap rasa penasaran yang sangat, sepotong kisah tentang Kakekku yang bila kulihat wajahnya, ia hanya diam dalam bingkai. Airmukanya begitu penuh kasih.. Entah mengapa tiap kutanyakan riwayatnya pada Ayah, Ayah bilang aku tak perlu tahu... Ehm.. Baiklah kalau begitu..
Lalu jika kukembali pada 20 tahun lalu, lagi-lagi aku dibuat penasaran pada wajah dalam album kenangan kecil itu. Ibu bilang wanita berkebaya ini Nenekku.. Cantik. Cantik sekali... Kata Ibu, nenek selalu berpesan pada putera-puterinya, agar kelak cucu-cucu gadisnya tak boleh ada yang menikah muda. Yaa.. Insya Allah Ibu dan Paman-bibi "sam'an wa tho'atan". ^_^
Kemudian semuanya berjalan dengan penuh kemudahan. Meski harus menerjang aral-aral yang melintang... Ada yang datang pun ada yang berpulang... Sebuah metamorfosis yang sempurna. Hingga aku menjadi seperti sekarang ini...
Ketika aku tertatih-tatih, Ayah dan Ibu datang menuntunku. Ketika aku tersenyum, Ayah dan Ibu datang menepuk-nepuk bahuku. Ketika aku khusyu dalam doa, maka Ayah dan Ibu menitikkan airmata ridhanya.
Setiap kali Ayah memintaku menjaga kenyamanan rumah, setiap itupun Ibu membimbingku 'menyapu lantai', 'mencuci dan melipat pakaian', 'menyingkap dan menutup tirai', 'menyirami tanaman', 'meracik' bumbu-bumbu iman dan kelezatan,
Kurasa sudah sempurna.
"mengapa Ibu memberi semua ini padaku?" Tanyaku suatu ketika. Kemudian Ibu menjawab,
"Ibu berikan semua ini padamu agar kelak Ibu tidak dilanda kecemasan saat kau mulai ibu lepas ke alam dimana kau mulai tahu arti suka dan duka yang sesungguhnya..." Jawab Ibu penuh ketulusan.
0 komentar:
Posting Komentar